CATATAN BUAT NENG SRI
Tak ada kata lain, berbalik atau semua bakal
bubar. Aku mendesah.rona alam seakan tak bersahabat, geliatnya seakan memberi
tanda yang kurang nyaman bagi penduduk kota ini,Sukabumi di kala senja hampir
setiap harinnya begini, tetesan demitetesan kristal sebesar ukuran biji ketimun
sesekali menyentuh kepalaku, Mataku masih saja tertambat pada tiang depan
Supermol itu,siapalagi kalau bukan sri, pasti ia, Galau yang tak kunjung
berhenti menerpaku, sosok wajah tirus dengan pesona yaa hut ini, terkadang aku
harus berjibaku dengan jantung yang seaakan mendahului nafasku, sesak begitu.
Apa mungkinkah, ah nenek sihir, rumit ini. Tak ada kata menyerah.
“ ayo deden janggan
lemot atu” bathinku meronta persih perempuan mau melahirkan. Perlahan aku atur
nafasku dengan pelan-pelan. Tarikan partikel oksigen seakan menurunkan tempo
jantungku.
“ nengsri,” ungkapku
menyapa dengan rona wajah merah sepertiga, yang dua pertiga lagi gelap gitu.
“kang deden ,” sri menjawab dengan singkat.
Walah cuman digubris begitu, aduh ketimpa etalase mol
rasanyanii, cuman begicu.
“neng mau kemana atu,” biarlah kucoba sedikit lagi .
“nggak, kemana-mana. Kan hujan kang ” buset, cetus banget
rasanya.
“oh bener ya,.”ujarku dengan sedikit berbasa basi yang
kebannyakan basinnya.
“ emang akan mau kemana juga, hujan kan.,”
celetuk bibir tipis dengan goresan merah itu melambungkan
biji mataku ketahapan haauss, yang tak terkira. Rasa manis, rasa asin, rasa
nano hadir dalam benakku, bukan sesuatu
lho,
aku masih saja, terkadang gelagapan didedan sri, makluk yang
terakhir dari planet andromeda ini, sering menghantui pikiranku, otak kecilku
seakan tak bisa bergerak,prosesnya selalu hadir pada otak besar, otissss, kalau
sudah didepannya. Ya sukasih.
“kang aku pulang dulu ya gerimisnya sudah kecil,” sambil
berlalu didepanku.
“oh, ya neng silaahkan” goblok, aku lupa iya berlalu
didepanku, aduh tongbajil dia berlalu. Wah lagi-lagi aku lupa ia berlalu.
Tapi nggak apalah, mana tahuan jumpa lagi, tapi aku lupa
minta nomer Hpnya e,aduh nggak jaman coiy, sekarang pin, bussyet beneran. Aku
mengeritih sendiri persih orang sakit gigi. Sekilas otakku berkerja denggan
normal sesekali ia harus tulalit, habis bannyakan yang bengkok ketemu neng sri,
cantik pisaan tahu.
Gang kidang,
tepatnya kosan kecil dengan ukuran 4x4, bukan mobil atu, yang pakai begituaan
kamar juga ada.terasa ramai siang ini, makluk kos-kosan dengan jumlah kamar
lumayan bannyak.yang terkadang sesekali bocor,maklum kebannyakan. Wajah ibuk
kos dengan sedikit jutek, terkadang sering mampir,denggan alasan matikan lampu
kalu siang, begitu. Posisi pas tempat ini, berada pada deretan supermol tinggal
loncot kalau dari atas mol gitu, jika berani. Paling juga nyunsep. Dekat banget
dengan molnya. Ibuk kos datang dengan suara kasnya, sosok perempuan disampinnya
itu, seakan membuat roh dalam tubuhku pengen absen sebentar perasaan. Gadis
dengan tinggi yang hampir mendekai ukuran tiang gawang bola kaki,tapi yang
ukuran putsal he. He. Sosok wajah dengan tirus, dengan latar penampakan bodas
banget. Neng sri, ngekos bakal ngekos disini.
“ tinggal ini, neng yang kosong, dekat tangga ini,” ucapan
ibuk, terdengar jelas. Yang terkadang bikin kita huh, lemes.
“iya, ibuk, nggak apa.!” Suara kecil dengan lembut itu
terasaa tak asing di kuping, maklum aku, ah rahasia.
“udah ibuk tinggal ya” si ibuk berlalalu dari depang sri.
Aku, terasa terbang, sejenak melewati awan-awan, yang
sesekali ditimpuk pelanggi, aduh keberatan jatuh lagi. Jarak kamar sri dengan
aku Cuma satu, dengan posisi berhadapan. Waduh nenek, bisa mati berdiri.
Aku sesekali nggintip dari balik jendela kamarku, lagi
ngapaiin neng sri. Torehan hati memang tak dapat dipungkiri, sudah lama hati
ini,beku tak merasakan torehan cuap-cuapnya,suka dengan seseorang. Sri hadir
memecahkan kebuntuaannya. Apa mungkin ia tertarik padaku, berbagai cara apa
yang harus kulakukan rasanyya aku ini fell in love again. Persih di film-film
gitu, dasar sincan.
mempan bagiku. Maklum kerjaan diperusaan sentrum. PLN tahu. Aku berada didepan pintu kamarnya sule
meluluk. “ ganteng kamu, deden,”
bathinku meronta.teganggan listrik seakan tak neng sri, jantungku terasa pengen
loncat, kakiku yang tadi tegap. Peraasaan berobah sendiri. Satu tinggi satu
rendah, gemetar.aduh teteh, bantuiin. Dengan cekakatan tangganku mengetuk pintu
kamarnya. “ neng, sri, lagi ngapain “ aku jadi heran kenapa nggak ada sahutan,
bereapa penghuni kosan lain pada melihat aku, dengan tajam, ada apa
geranggan??. Tony salah satunya ia tersenyum lebar persih wajannya siaris
tukang mi tek-tek. Otak kecilku belum juga berfungsi, ia masih tersumbat, habis
otak besar menghalanggi sinnyalnya.
“den, itukan, kamarnya di gembok” suara itu, membuat aku
tersadar. Jutaan partikel nyasar pada lenyep, astaga. Aduh malu aku. Suara the
erna menyadarkan aku dari kecerobohan.
“oh, ya teh makasih, udah ingatin” jam delapan belas kosong-kosong, siial, aku
benar-benar malu, bagong siak. Perlahan kutarik nafas dalam, ketenanggan kunci
sukses begitu kata para motipator, pokok ee, yang ada hubunggan dengan tor,tor.
Yang jelas bukan propokotor.he..he.
Hoky, selalu ada.
Aku merasakan itu. Sri terlihat jelas berada didepan kamarku.
“ baru pulang,neng sri” aku menyapa dengan sura rada manja.
“iya, kang deden” ungkapnya dengan senyum simpul, mengeliat
diantara belahan bibir mungilnya.
“ neng ada waktu nggak nanti, aku pengen menyampaikan
sesuatu, jika boleh” dengan rada berhap.
“ sekarang aja, kang.” Tubuhku terasa kaku sebelah, struuuk.
“ ya, janggan di sini, neng malu”
“ apaan kang. nggak ada orang Cuma kita berdua” aku
gelagapan.
“neng,bolehkah dirimu untukku, aku suka denganmu” dengan
bla-bla aku sampaikan rasa hatiku. Apa hasilnya terserahlah dari pada aku harus
panas dinggin malaria tahu. setiap hari.
“aduh kang deden maaf, aku sudah punnya tunanggan sebulan
lagi kami merid”
Oh, my good, rasa lepas jantungku. Seakan terlihat malaikait
memanggilku, wah hancuuuur,peraasaanku. Aku tersandar dalam sebuah peraasan
sepihak, cinta bertepuk sebelah tanggan.
Sri berlalu
dihadapnku, terasa tiris hati ini, aka salah menafsirkannya. Ya sudahlah. Aku
tak bisa memaksakan kehendak. Cinta itu anugrah, semoga berbahagilah. Persih
penyair peraasaan.
Relung malam
mengantarkan aku pada sebuah buku kecil dengan warna-warni di kertasnya. Diarry
maksudnya toy. Tangganku bergerak mengikuti peraan hati.
Aku masih, disini.
Kamar ini,tak kunjung
mengerti. Lelah sudah bathin ini,mengejar yang tak pasti
Gelombang hati tak
kunjung,menyatukan sayap ini,
Aku terbang menyusup relung hati. Pujaanku
Gadis manis,berjilbab
biru, titip sayang untukmu
Walau ragamu tak bakal
kumiliki, aku masih tersennyum disini, apabila aku bisa melihatmu.
Senyum indah diantara
relung hatiku.
Aku tutup sebuah
catatan hannya padamu.
Catatan buat neng sri.
Jutan partikel hadir dalam jiwa hampaku,
sosok gadis manis berjilbab biru, yang pertama kulihat di tour and trapel
tanjung wisata itu, sempat hadir menjamu ragaku. Terkadang hidup penuh
lika-liku, ya namnyya laki-laki. Buah ketimun buannya kedondong. Terpaksa
mannyun dong.