Sunday, 17 February 2013


CATATAN BUAT NENG SRI

   Tak ada kata lain, berbalik atau semua bakal bubar. Aku mendesah.rona alam seakan tak bersahabat, geliatnya seakan memberi tanda yang kurang nyaman bagi penduduk kota ini,Sukabumi di kala senja hampir setiap harinnya begini, tetesan demitetesan kristal sebesar ukuran biji ketimun sesekali menyentuh kepalaku, Mataku masih saja tertambat pada tiang depan Supermol itu,siapalagi kalau bukan sri, pasti ia, Galau yang tak kunjung berhenti menerpaku, sosok wajah tirus dengan pesona yaa hut ini, terkadang aku harus berjibaku dengan jantung yang seaakan mendahului nafasku, sesak begitu. Apa mungkinkah, ah nenek sihir, rumit ini. Tak ada kata menyerah.
 “ ayo deden janggan lemot atu” bathinku meronta persih perempuan mau melahirkan. Perlahan aku atur nafasku dengan pelan-pelan. Tarikan partikel oksigen seakan menurunkan tempo jantungku.
  nengsri,” ungkapku menyapa dengan rona wajah merah sepertiga, yang dua pertiga lagi gelap gitu.
“kang deden ,” sri menjawab dengan singkat.
Walah cuman digubris begitu, aduh ketimpa etalase mol rasanyanii, cuman begicu.
“neng mau kemana atu,” biarlah kucoba sedikit lagi .
“nggak, kemana-mana. Kan hujan kang ” buset, cetus banget rasanya.
“oh bener ya,.”ujarku dengan sedikit berbasa basi yang kebannyakan basinnya.
“ emang akan mau kemana juga, hujan kan.,”
celetuk bibir tipis dengan goresan merah itu melambungkan biji mataku ketahapan haauss, yang tak terkira. Rasa manis, rasa asin, rasa nano  hadir dalam benakku, bukan sesuatu lho,
aku masih saja, terkadang gelagapan didedan sri, makluk yang terakhir dari planet andromeda ini, sering menghantui pikiranku, otak kecilku seakan tak bisa bergerak,prosesnya selalu hadir pada otak besar, otissss, kalau sudah didepannya. Ya sukasih.
“kang aku pulang dulu ya gerimisnya sudah kecil,” sambil berlalu didepanku.
“oh, ya neng silaahkan” goblok, aku lupa iya berlalu didepanku, aduh tongbajil dia berlalu. Wah lagi-lagi aku lupa ia berlalu. 
Tapi nggak apalah, mana tahuan jumpa lagi, tapi aku lupa minta nomer Hpnya e,aduh nggak jaman coiy, sekarang pin, bussyet beneran. Aku mengeritih sendiri persih orang sakit gigi. Sekilas otakku berkerja denggan normal sesekali ia harus tulalit, habis bannyakan yang bengkok ketemu neng sri, cantik pisaan tahu.
   Gang kidang, tepatnya kosan kecil dengan ukuran 4x4, bukan mobil atu, yang pakai begituaan kamar juga ada.terasa ramai siang ini, makluk kos-kosan dengan jumlah kamar lumayan bannyak.yang terkadang sesekali bocor,maklum kebannyakan. Wajah ibuk kos dengan sedikit jutek, terkadang sering mampir,denggan alasan matikan lampu kalu siang, begitu. Posisi pas tempat ini, berada pada deretan supermol tinggal loncot kalau dari atas mol gitu, jika berani. Paling juga nyunsep. Dekat banget dengan molnya. Ibuk kos datang dengan suara kasnya, sosok perempuan disampinnya itu, seakan membuat roh dalam tubuhku pengen absen sebentar perasaan. Gadis dengan tinggi yang hampir mendekai ukuran tiang gawang bola kaki,tapi yang ukuran putsal he. He. Sosok wajah dengan tirus, dengan latar penampakan bodas banget. Neng sri, ngekos bakal ngekos disini.
“ tinggal ini, neng yang kosong, dekat tangga ini,” ucapan ibuk, terdengar jelas. Yang terkadang bikin kita huh, lemes.
“iya, ibuk, nggak apa.!” Suara kecil dengan lembut itu terasaa tak asing di kuping, maklum aku, ah rahasia.
“udah ibuk tinggal ya” si ibuk berlalalu dari depang sri.
Aku, terasa terbang, sejenak melewati awan-awan, yang sesekali ditimpuk pelanggi, aduh keberatan jatuh lagi. Jarak kamar sri dengan aku Cuma satu, dengan posisi berhadapan. Waduh nenek, bisa mati berdiri.
Aku sesekali nggintip dari balik jendela kamarku, lagi ngapaiin neng sri. Torehan hati memang tak dapat dipungkiri, sudah lama hati ini,beku tak merasakan torehan cuap-cuapnya,suka dengan seseorang. Sri hadir memecahkan kebuntuaannya. Apa mungkin ia tertarik padaku, berbagai cara apa yang harus kulakukan rasanyya aku ini fell in love again. Persih di film-film gitu, dasar sincan.

   Waktu, seakan tak pernah peduli dengan penghuni alam, ia berlalu mengikuti porosnya. Malam mengantarkan penduduk sukabumi untuk menikmati gelapnya.aku tersentak dalam kesunnyian hati pengen rasa ini, aku ungkapkan. Cermin di kamarku seakan sudah bosan dengan tatapan mataku, yang lagi belajar dandan , cihuiiiy, neng sri  Iam caming. Serba gaya kucoba, bahkan sudah mengalahkan tom crus rasanya. Tapi perasaan terakhir mau jalan persis 
mempan bagiku. Maklum kerjaan diperusaan sentrum. PLN  tahu. Aku berada didepan pintu kamarnya sule meluluk.       “ ganteng kamu, deden,” bathinku meronta.teganggan listrik seakan tak neng sri, jantungku terasa pengen loncat, kakiku yang tadi tegap. Peraasaan berobah sendiri. Satu tinggi satu rendah, gemetar.aduh teteh, bantuiin. Dengan cekakatan tangganku mengetuk pintu kamarnya. “ neng, sri, lagi ngapain “ aku jadi heran kenapa nggak ada sahutan, bereapa penghuni kosan lain pada melihat aku, dengan tajam, ada apa geranggan??. Tony salah satunya ia tersenyum lebar persih wajannya siaris tukang mi tek-tek. Otak kecilku belum juga berfungsi, ia masih tersumbat, habis otak besar menghalanggi sinnyalnya.
“den, itukan, kamarnya di gembok” suara itu, membuat aku tersadar. Jutaan partikel nyasar pada lenyep, astaga. Aduh malu aku. Suara the erna menyadarkan aku dari kecerobohan.
“oh, ya teh makasih, udah ingatin” jam  delapan belas kosong-kosong, siial, aku benar-benar malu, bagong siak. Perlahan kutarik nafas dalam, ketenanggan kunci sukses begitu kata para motipator, pokok ee, yang ada hubunggan dengan tor,tor. Yang jelas bukan propokotor.he..he.
   Hoky, selalu ada. Aku merasakan itu. Sri terlihat jelas berada didepan kamarku.
“ baru pulang,neng sri” aku menyapa dengan sura rada manja.
“iya, kang deden” ungkapnya dengan senyum simpul, mengeliat diantara belahan bibir mungilnya.
“ neng ada waktu nggak nanti, aku pengen menyampaikan sesuatu, jika boleh” dengan rada berhap.
“ sekarang aja, kang.” Tubuhku terasa kaku sebelah, struuuk.
“ ya, janggan di sini, neng malu”
“ apaan kang. nggak ada orang Cuma kita berdua” aku gelagapan.
“neng,bolehkah dirimu untukku, aku suka denganmu” dengan bla-bla aku sampaikan rasa hatiku. Apa hasilnya terserahlah dari pada aku harus panas dinggin malaria tahu. setiap hari.
“aduh kang deden maaf, aku sudah punnya tunanggan sebulan lagi kami merid”
Oh, my good, rasa lepas jantungku. Seakan terlihat malaikait memanggilku, wah hancuuuur,peraasaanku. Aku tersandar dalam sebuah peraasan sepihak, cinta bertepuk sebelah tanggan.
 Sri berlalu dihadapnku, terasa tiris hati ini, aka salah menafsirkannya. Ya sudahlah. Aku tak bisa memaksakan kehendak. Cinta itu anugrah, semoga berbahagilah. Persih penyair peraasaan.

   Relung malam mengantarkan aku pada sebuah buku kecil dengan warna-warni di kertasnya. Diarry maksudnya toy. Tangganku bergerak mengikuti peraan hati.

Aku masih, disini.
Kamar ini,tak kunjung mengerti. Lelah sudah bathin ini,mengejar yang tak pasti
Gelombang hati tak kunjung,menyatukan sayap ini,
Aku  terbang menyusup relung hati. Pujaanku
Gadis manis,berjilbab biru, titip sayang untukmu
Walau ragamu tak bakal kumiliki, aku masih tersennyum disini, apabila aku bisa melihatmu.
Senyum indah diantara relung hatiku.
Aku tutup sebuah catatan hannya padamu.
Catatan buat neng sri.
    Jutan partikel hadir dalam jiwa hampaku, sosok gadis manis berjilbab biru, yang pertama kulihat di tour and trapel tanjung wisata itu, sempat hadir menjamu ragaku. Terkadang hidup penuh lika-liku, ya namnyya laki-laki. Buah ketimun buannya kedondong. Terpaksa mannyun dong.




Tuesday, 5 February 2013


SUKABUMI WITH LOVE



   Tak ada kata menyerah, apalagi berbalik. Gadis itu masih berdiri diantara tiang gerbang mol yang ukurannya dua kali gerobak mi tek-tek. Gelis pisan ooy. Dibandingkan dengan ceriber kalah jauh. Ibarat pertandinggan bola sudah pasti kalahtu ceribet.Aku mencoba memberanikan diri